Suasana kehidupan di perumahan orang-orang kaya, Clara gadis kecil keturunan Inggris yang tinggal di perumahan tersebut sedang menelpon kedua orang tuanya yang berada di USA.
"mom, i have the task of the school to see the state of slum housing under the bridge?aku hanya ke daerah tanjung priok saja..boleh kan mom?please"tanya Clara.
"ok, mom give permission for you..but do not forget to bring sunglasses, jackets, umbrellas, takutnya panas disana...pack up the car driver yes!"jawab mama Clara
"ok mom, thank's"jawab Clara
akhirnya Clara tutup telponnya dan langsung berangkat ke derah perkumuhan di tanjung priok.
sesampainya disana, clara turun dari mobilnya dengan memakai kacamata hitam, jaket, dan payung dengan diantar sopirnya.Didepan keberadaan Clara berdiri, Clara melihat ada sebuah rumah yang sangat besar tapi hanya terbuat dari bambu, dan banyak anak-anak bermain disana.
"woww..kacamata dan jaketmu bagus, pasti mahal yah?beli diamana?lumayan tuh kalau dijual.."celetukan dari seoarang anak singgah dengan bahasa anak jalanannya.
"iya, beli di amerika..oh iya, home what's this?why so large but made of bamboo and why so many children's?"jawab Clara.
"maaf yah, saya biasa makan tempe..jadi gak suka ngomong bahasa planet, saya cinta indonesia!!"celetuk anak didepan Clara tersebut.
"sorry, maksud saya rumah apa ini?kenapa begitu besar dan banyak anak-anak?dan kenapa dibuat dari bambu?bukan dari semen atau apa gitu?"tanya Clara.
"oohh, ini namanya rumah singgah..rumah ini tempat untuk anak-anak yang tidak memiliki orangtua..oh iya, nama kamu siapa?"tanya anak itu.
"my name, sorry namaku Clara"jawab Clara."aku Bagus, eh masuk yuk kerumah singgah!"
Sesampainya dirumah singgah, Clara pun terkejut melihat kerajinan-kerajinan tangan anak singgah yang bagus-bagus.
"woww..this beautiful!!"seru Clara."maksudnya?"tanya Bagus.
"maaf, maksudku kerajinan tangan ini sungguh indah, siapa yang buat?tanya Clara.
"oh..yah tentu anak singgah ini!"jawab Bagus.
"bagaimana cara membuatnya?bisakah aku ikut mebikin kerajinan ini?"tanya Clara.
"ayoo..ikut aku!"seru Bagus.
Clara bingung mau dibawa kemana, sesampainya dia mengikuti Bagus dia melihat kalau diruangan itu penuh dengan sampah, tentu saja Clara jijik dengan ruangan itu.
"Bagus, aku ini ingin membuat kerajinan, bukan memulung sampah!"celetuk Clara.
"iya inilah bahan-bahan membuat kerajinan tersebut, kita memakai barang pungutan yang berada dijalanan"jawab Bagus.
"oowwhh(dengan merasa jijiknya)...trus ngapain nih kita?"tanya Clara.
"yaudah kita kumpulin sampah-sampah ini dulu."jawab Bagus.
"kita?kayaknya kamu aja deh, aku gak!i'm disgusted with the trash because trash dirty and smelly!"celetuk Clara.
"yaudah kalau gak mau, aku mau tidur!"jawab Bagus
"eehh, yaudah aku mau(menjawab dengan terpaksa)!"
akhirnya clara mengumpulkan sampah-sampah itu terus mencucinya dan membuat kerajinan tersebut dengan anak-anak singgah lainnya.selesai membuat, Clara senang sekali dengan hasil kerajinannya ia membuat mobil-mobilan dari botol plastik.
"hasilnya keren ya, aku gak nyangka kirain aku anak sekolahan lebih pinter daripada anak jalanan!"celetuk Clara."hehehehe, iya dong..kita buat dengan rasa yang senang"jawab Bagus.
"eehh, kalian gak pernah belajar bahasa inggris yah?"mau aku ajarin gak?"tanya Clara.
"boleh tuh!"jawab Bagus.
dan suasana clara mengajarkan anak-anak bahasa inggris, sudah seharian Clara berada di rumah singgah itu dan Clara haru pulang.
"aku pulang dulu yah gus, salam sama semuanya..ingat bahasa inggrisnya jangan lupa"celetuk Clara.
"ok, teacher..makasih yah kamu udah mau ajarin kita semua bahasa inggris, lain hari main kesini yaaa..!!"jawab Bagus.
"iyaaa...bye all"ucap Clara."bye juga teacher"jawab semua anak singgah.
dan dimobil Clara pun menatap sedih rumah singgah yang bersampingan sungai coklat lebih coklat dari pada susu coklat, hingga meneteskan air mata."kenapa non?kok nangis?"tanya supir.
"saya sedih pak, kenapa kehidupan manusia berbeda?padahal semua manusia sama saja.dan kenapa rumah mereka beda dengan rumah saya, rumah mereka terbuat dari bambu?sementara rumah saya terbuat dari semen.dan kenapa juga disebelah rumah singgah itu adalah sungai yang coklat?sementara saya, sebelah rumah saya adalah kolam renang...saya baru tau pak..huhuhuhu, saya gak tega pak melihat mereka"ucap Clara sambil menangis.
"iyaa mungkin semua sudah diatur oleh tuhan non"jawab pak supir dengan singkat.
"tapi tuhan gak adil, kenapa harus begini?kenapa saya bisa sekolah mewah, tapi mereka gak?kenapa saya punya orangtua, tapi mereka gak?"tanya Clara.
"tuhan itu adil, non.tapi mungkin blum saatnya mereka dapat kebahagiaan...mungkin minggu depan, bulan depan, atau tahun depan mereka bisa dapat kebaagiaan, yaudah non jangan nangis lagi yaa"jawab supir.
"thank's pak, bapak sudah menenangkan hati saya.."ucap Clara.
"ya tuhan, saya mohon dengan sangat..berilah anak-anak jalanan ini kebahagiaan, tuhan.mereka membutuhkan kasih sayang dari orang tuanya..mereka butuh keluarga untuk berkumpul bersama-sama, berilah mereka kenikmatan hidup ya tuhan...mengapa engkau membeda-bedakan harta manusia, tuhan?tanya Clara pada tuhan di dalam hati sambil meneteskan air matanya.if you feel the real thing, it's definitely very sad..glad we've given the health, adequate provision by god..Thank's so much god.
Cerpen
Selasa, 08 Maret 2011
Kucing Bernama Kupu-Kupu
Pilihlah sepuluh barang yang paling penting di dunia, maka Dea akan mengambil pensil di urutan pertama.Sudah malas dia bersama-sama dengan Roy yang terang-terang ingin membuangnya.Dea punya dunia sendiri.Dia punya kebahagiaan sendiri.Dan, itu hanya butuh sebatang pensil untuk memulainya.
Seolah memang seperti itu insting Dea diasah.Dia duduk nyaman dibawah jembatan layang.Meraih sesobek kardus warna putihyang mulai ia coret-coreti sekarang.Dea ingin menggambar sesuatu, apa saja.Ketika kelompok anak lain dengan baju compang-camping menghampirinya, Dea sudah menyelesaikan gambarnya.
"Gambar kucing kok, namanya kupu-kupu?"
Dea mendongak.Anak seusianya berdiri petantang-petenteng dengan beberapa kawannya dibelakang.Anak ini berambut keriting yang dibiarkan panjang menutupi leher.
"Ini memang kucing," Dea menantang.Tak perlu lagi pertemuan dimula dengan kenalan. "Tapi aku kasih nama kupu-kupu."
Bocah asing berambut keriting itu terbahak kemudian sedikit dibuat-buat.Kawan-kawannya mengikuti.Dea bangun lalu berkacak pinggang "Kamu, manusia juga bisa dipanggil monyett!"
Tertawa lagi anak-anak didepan Dea, kecuali anak berambut keriting itu.Dia kelihatan sebal dan jengkel sekali.Apalagi ketika salah seorang temannya nyeletuk, "monyet..monyet..!"
Bocah keriting itu membalikan badan, mengepalkan tinjunya dikejam-kejamkan.
Seolah memang seperti itu insting Dea diasah.Dia duduk nyaman dibawah jembatan layang.Meraih sesobek kardus warna putihyang mulai ia coret-coreti sekarang.Dea ingin menggambar sesuatu, apa saja.Ketika kelompok anak lain dengan baju compang-camping menghampirinya, Dea sudah menyelesaikan gambarnya.
"Gambar kucing kok, namanya kupu-kupu?"
Dea mendongak.Anak seusianya berdiri petantang-petenteng dengan beberapa kawannya dibelakang.Anak ini berambut keriting yang dibiarkan panjang menutupi leher.
"Ini memang kucing," Dea menantang.Tak perlu lagi pertemuan dimula dengan kenalan. "Tapi aku kasih nama kupu-kupu."
Bocah asing berambut keriting itu terbahak kemudian sedikit dibuat-buat.Kawan-kawannya mengikuti.Dea bangun lalu berkacak pinggang "Kamu, manusia juga bisa dipanggil monyett!"
Tertawa lagi anak-anak didepan Dea, kecuali anak berambut keriting itu.Dia kelihatan sebal dan jengkel sekali.Apalagi ketika salah seorang temannya nyeletuk, "monyet..monyet..!"
Bocah keriting itu membalikan badan, mengepalkan tinjunya dikejam-kejamkan.
Langganan:
Postingan (Atom)