Pilihlah sepuluh barang yang paling penting di dunia, maka Dea akan mengambil pensil di urutan pertama.Sudah malas dia bersama-sama dengan Roy yang terang-terang ingin membuangnya.Dea punya dunia sendiri.Dia punya kebahagiaan sendiri.Dan, itu hanya butuh sebatang pensil untuk memulainya.
Seolah memang seperti itu insting Dea diasah.Dia duduk nyaman dibawah jembatan layang.Meraih sesobek kardus warna putihyang mulai ia coret-coreti sekarang.Dea ingin menggambar sesuatu, apa saja.Ketika kelompok anak lain dengan baju compang-camping menghampirinya, Dea sudah menyelesaikan gambarnya.
"Gambar kucing kok, namanya kupu-kupu?"
Dea mendongak.Anak seusianya berdiri petantang-petenteng dengan beberapa kawannya dibelakang.Anak ini berambut keriting yang dibiarkan panjang menutupi leher.
"Ini memang kucing," Dea menantang.Tak perlu lagi pertemuan dimula dengan kenalan. "Tapi aku kasih nama kupu-kupu."
Bocah asing berambut keriting itu terbahak kemudian sedikit dibuat-buat.Kawan-kawannya mengikuti.Dea bangun lalu berkacak pinggang "Kamu, manusia juga bisa dipanggil monyett!"
Tertawa lagi anak-anak didepan Dea, kecuali anak berambut keriting itu.Dia kelihatan sebal dan jengkel sekali.Apalagi ketika salah seorang temannya nyeletuk, "monyet..monyet..!"
Bocah keriting itu membalikan badan, mengepalkan tinjunya dikejam-kejamkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar